Skip to content

Diah Dwiyanti Sebut Emas APG 2022 Hadiah Spesial dari Sang Pencipta

  • by
Alet voli duduk Indonesia Diah Dwiyanti melakukan pukulan servis dalam pertandingan bola voli duduk 11th ASEAN Para Games 2022 di GOR UTP Karanganyar, Jawa Tengah (Kamis 4/8/2022). INASPOC/Agung Wahyudi

KARANGANYAR – Diah Dwiyanti. Namanya mulai mencuat ke permukaan berkat kerja keras bersama koleganya di Timnas voli duduk putri Indonesia. Ia dan tim berhasil mempersembahkan medali emas ASEAN Paragames (APG) 2022.

Diah dkk berhasil mengembalikan kejayaan Indonesia di cabang olahraga voli duduk putri yang puasa menggenggam emas selama 9 tahun. Adapun kesuksesan terakhir di ukir pada APG 2013 Myanmar.

Namun dibalik kesuksesannya di APG edisi ke-11/2022, ada sekelumit cerita pilu yang sempat dialami serta acap membayangi wanita kelahiran Bandung, Jawa Barat itu.

Berdasarkan pengakuan, Diah sejatinya merupakan pemain voli umum. Dirinya giat mengikuti kejuaraan, terutama dalam turnamen antar kampus semasa kuliahnya. Namun sebuah momentum yang tak diharapkan memaksa atlet berusia 24 tahun harus mengakhiri mimpi besarnya menjadi atlet profesional.

Itu bermula ketika musibah menghampiri Diah saat bermain memperkuat Universitas Padjajaran (Unpad) di UGM Yogyakarta, 2016 silam. Depresi dan trauma menghantui. Mentalnya kian bergejolak. Terutama ketika tempurung kakinya mengalami masalah yang sangat serius.

“Saat saya spike, tempurung saya geser ke atas. Cedera ligamen. ACL saya putus dan akhirnya pada 2017 saya melakukan operasi,” kenang Diah saat ditemui di GOR Universitas Tunas Pembangunan (UTP), Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (4/8/2022).

Ditengah rasa depresi, keluarga mencoba membangkitkan motivasinya. Termasuk saudari kembarnya yang kini meniti karir bersama klub Bandung BJB Tandamata di ajang Proliga, Dian Pratiwi.

“Selama dua tahun saya hanya berdiam diri saja. Ketika melihat lapangan voli, saya menangis, karena masih ada trauma. Yang membuat saya bangkit, saya melihat saudara kembar saya (Dian Pratiwi -red) makin naik di voli. Jadi mau sampai kapan saya begini,” katanya.

“Dorongan dari diri sendiri dan orang lain juga banyak. Terutama keluarga. Karena kedua orang tua saya juga atlet voli. Mereka sangat support saya walau saya di voli duduk. Mereka tidak memandang itu. Mereka anggap semuanya sama,” ucap Diah.

Alhasil, ia mencoba meneruskan olahraga kegemarannya dengan bergabung ke NPC. Setiba disana, Diah bertemu teman-teman sesama disabilitas. Dari sana, rasa trauma dan depresi seakan hilang 360 derajat untuk kembali melanjutkan kehidupannya sebagai atlet voli duduk.

Ditambah, pada APG tahun ini, Diah dipercaya menjadi kapten tim oleh pelatihnya, Andri Asrul Setiyawan. Dan ia tak membuang kepercayaan. Diah dkk berhasil mempersembahkan medali emas untuk Indonesia.

Pun, ia menyadari, sekelumit kisah yang telah dialami, mulai dari rasa traumatik tingkat tinggi hingga menemukan kembali motivasi hidup merupakan sebuah rencana besar dari sang pencipta. “Ini (medali emas -red) berkat hasil sabar saya. Ini hadiah dari Tuhan,” tutupnya.*

Leave a Reply

Your email address will not be published.