Skip to content

Dua Emas Warmia Jadi Pembuktian

  • by
Atlet Indonesia, Warmia melakukan selebrasi seusai meraih medali emas lempar cakram 11th ASEAN Para Games 2022 di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Rabu (3/8/2022). Foto: INASPOC/Muhamad Solihin.

Solo – Peraih dua medali emas dari cabang para-atletik nomor lempar cakram pada ASEAN Paragames 2022, Warmia belum berniat pensiun. Kecuali ada atlet muda yang mampu mengalahkannya di klasifikasi F42/44 (gangguan kelainan tungkai).

Secara usia, atlet asal Banjarmasin ini memang terbilang sudah tidak muda lagi, 43 tahun. Namun, dirinya masih ingin berpretasi lebih lagi. Walaupun National Paralympic Committee (NPC) menegaskan dirinya kemungkinan tidak bisa disertakan dalam Paralimpik tahun depan, Warmia mengaku siap diadu dengan atlet muda untuk membuktikan kualitasnya.

Pada ASEAN Paragames ini, dia meraih medali emas di nomor lempar lembing setelah menghasilkan lemparan terjauh 23,82 meter. Lebih jauh dari hasil lemparan pesaing terdekatnya asal Vietnam Tran Thi Thuy (19,18 meter) yang finis di posisi kedua. Kemudian peringkat ketiga dan berhak atas medali emas ada atlet Vietnam lainnya Vo Thi Thu dengan lemparan terjauh 17,01 meter.

Kemudian, Rabu (3/8/2022), dia kembali merebut emas keduanya dari nomor tolak peluru. Menggunakan sistem perhitungan lemparan terjauh, Warmia unggul setelah mencatatkan tolakan sejauh 25,15 meter. Tolakan itu dihasilkannya pada percobaan terakhir atau percobaan keenam.

Menyisihkan Tran Thi yang kembali menempati posisi kedua setelah tolakannya 23,5 meter dan diperingkat ketiga kembali diraih atlet Vietnam Vi Thi Thu dengan hasil 22,67 meter.

“Ini pembuktian saya. Karena sebelumnya pernah gagal di nomor lempar, kemudian saya disuruh pindah ke voli duduk. Tapi, saya tidak bisa. Jadi saya bertekad tetap bertahan di nomor lempar, sampai saya bisa dan terus membuktikan diri,” ungkapnya.

Setelah mempersembahkan medali di ajang ASEAN Paragames sejak 2014 lalu hingga saat ini, dirinya masih ingin naik level tampil di paralimpik. Tapi karena NPC lebih memfokuskan mencari atlet muda ke Paralimpik 2024 mendatang, Warmia pun gelisah.

“Ya saya masih mau berprestasi lebih tinggi lagi meski dengan usia yang sekarang. Tapi entah bisa ikut paralimpik atau tidak, karena kalau mau ke paralimpik harus mengambil poin-poin kualifikasi terlebih dahulu. Sementara, NPC maunya atlet yang lebih muda, di bawah 25 tahun). Tapi yang muda belum bisa mengalahkan yang tua,” tuturnya.

Buktinya, menurut Warmia, ada di kelasnya ini. Di mana ada atlet muda 19 tahun tetapi belum bisa mengalahkan. Jadi menurutnya tergantung NPC kembali, mau berkompetisi secara usia atau berkompetisi secara prestasi.

Sebenarnya, menurut dia banyak atlet muda yang bisa jadi penerusnya. Hanya saja, dirinya menilai mereka masih kurang disiplin.

“Semangatnya juga kurang, karena mereka masih suka main-main saat latihan. Beda dengan yang tua-tua ini. Kami memang kalah tenaga, tetapi kami sudah matang tekniknya. Tinggal memoles saja,” imbuh Warmia yang sehari-hari adalah ibu rumah tangga.

Patenkan klasifikasi
Perjuangannya bukan hanya mempertahankan eksistensi di nomor lempar, tetapi juga saat dirinya mencari klasifikasi disabilitasnya. Sebelum disabilitasnya di klasifikasikan di kelas F42 seperti sekarang, dia sering kali terlempar-lempar kelasnya.

“Pada ASEAN Paragames 2011 kena degradasi karena belum dapat klasifikasi. Baru pada ASEAN Paragames Myanmar saya mendapatkan klasifikasi F43 dan bisa menghasilkan dua emas serta dua perak. Karena ketika itu statusnya masih review, maka tiap kejuaraan harus melakukan tes klasifikasi ulang. Maka saya inisiatif mengambil klasifikasi sendiri ke Beijing, Cina. Waktu itu ikut Grand Prix dengan biaya sendiri untuk bisa mematenkan klasifikasi di F42,” tuturnya.

Dia pun saat ini telah memiliki surat konfirmasi dari World Para-Atletik untuk klasifikasi di kelas F42. Dengan status confirm, maka dirinya tidak perlu lagi melakukan klasifikasi ulang setiap kejuaraan dan juga sudah tidak bisa berpindah-pindah kelas lagi.**

Leave a Reply

Your email address will not be published.