Skip to content

Indonesia Patahkan Mitos Tuan Rumah ASEAN Paragames Tidak Bisa Jadi Juara Umum

  • by
Para atletik Indonesia mampu mengeruk 60 medali emas dari 34 yang ditargetkan. INASPOC/Feri Setiawan

SOLO – Menjadi juara umum ASEAN Paragames 2022 setelah tak terkejar lagi oleh negara-negara pesaing lainnya menjadi cerita tersendiri bagi Indonesia. Kontingen Merah Putih juara umum setelah mengoleksi 176 medali emas, 147 perak, dan 112 perunggu.

Ini catatan sejarah karena dalam lima penyelenggaraan ASEAN Paragames, sejak 2009 belum pernah ada tuan rumah yang menjadi juara umum. Indonesia pun mematahkan mitos tersebut.

“Kita berhasil melewati yang dicanangkan di awal dengan 104 emas. Ini fakta menariknya, di lima APG terakhir sejak 2009 Malaysia, tanpa Filipina (tidak dihitung) yang namanya tuan rumah tidak pernah juara umum. Baru kali ini kita bisa mematahkan mitos tersebut,” kata Sekretaris Jenderal NPC Indonesia Rima Ferdianto dalam jumpa pers di Media Center APG 2022 di Swissbellin Hotel, Solo, Jumat (5/8/2022) malam.

Mengapa ada fakta unik tersebut, menurutnya karena di olahraga disabilitas ini tuan rumah tidak memiliki faktor yang bisa diunggulkan selain dukungan suporter. Bila multievent olahraga non disabilitas biasanya tuan rumah memiliki keuntungan untuk memasukan olahraga baru/tradisionalnya untuk dipertandingkan guna menambah medali, tetapi di olahraga para ini, tidak ada.

“Semua olahraga yang dipertandingkan di ASEAN Para Games semua inline dengan cabang olahraga Paralimpik. Jadi cabang olahraganya tidak berubah, itu-itu saja. Tidak bisa diakali, sehingga ini murni pencapaiannya adalah prestasi yang diandalkan,” tukasnya.

Saat persiapan, kata Rima, NPC sempat khawatir melihat fakta tersebut. Apakah benar, Indonesia mampu menjadi tuan rumah sekaligus juara umum dan memenuhi tiga target lainnya, yakni sukses pelaksanaan, administrasi, dan mengulirkan kembali kondisi perekonomian Solo.

Komandan Kontingen Indonesia (CdM), Andi Herman menambahkan bisa seluruh target pencapaian medali tiap cabor hampir seluruhnya terpenuhi, kecuali di sepakbola CP (Celebral Palsy) yang meleset. Di mana Indonesia kalah adu penalti dengan Thailand di final hingga gagal mempertahankan medali emas 2017 lalu.

“Dari 14 cabor yang dipertandingkan 8 cabor melebihi ekspektasi. Para-atletik dari gambaran 34 emas ternyata bisa mendapatkan 60 emas. Kedua, para-badminton yang dari target 6 emas bisa memperoleh 13 emas, catur dari 10 emas malah bisa membawa pulang 13 emas.

Kemudian angkat besi dari 6 emas perhitungan awal, ternyata bisa menjadi 18 emas. Renang yang diprediksi hanya 27 emas mampu mengais 29 emas. Panahan, di awal hanya 2 emas ternyata dapat 3 emas dan blind judo yang di harapkan hanya tiga ternyata bisa menjadi 9 emas.

Lalu ada tiga cabor yang sejak awal tidak diproyeksikan untuk mendapatkan emas, yakni basket wheelchair, tenis wheelchair, dan goalball. Hal itu dinilainya bukan bentuk pesimistis, tetapi lebih kepada realitas pencapaian sebelumnya.

“Ketiga cabor ini memang tidak masuk proyeksi medali karena mereka dinilai belum bisa bersaing dengan negara pesaing lain, kalau melihat dari catatan prestasi sebelum-sebelumnya. Dan, ternyata hasilnya di lapangan tetap belum bisa bersaing. Jadi sesuai,” imbuh Andi.**

Leave a Reply

Your email address will not be published.