Skip to content

Indonesia Raya Bergema, Fisioterapis Jadi Baper

  • by
Agung Martopo (topi hitam) dan fisioterapis lain berpose  bersama  atlet usai pertandingan terakhir di Cabor Para-atletik ASEAN Paragames Solo 2022 , di Stadion Manahan Solo, Jumat (5/8/2022). Foto: MEDIA CENTER APG 2022

Solo – Kehadiran para fisioterapis di arena atletik sangat krusial bagi para atlet yang berlaga di ASEAN Paragames Solo 2022. Menjelang dan sesudah lomba, mereka memantau kondisi kesehatan atlet.  Mereka bahkan siaga selama 24 jam untuk para pejuang medali emas itu.

Para fisioterapis siap dipanggil kapan saja oleh atlet yang membutuhkan.

“Ini saya juga baru mengantar atlet ke RSUD Moewardi, karena ada atlet bengkak di lutut kemungkinan maniskus atau cedera ACL (ligamen),” kata Nur Agung Martopo, koordinator tim Fisioterapis di cabang olahraga Para-atletik, Sabtu (6/8/2022).

Sehari-hari Agung bertugas di Stadion Manahan Solo. Ada dua lokasi tempat para fisioterapis itu bisa ditemui. Pertama di area base campnya, kedua di dalam stadion, tepatnya di pinggir trek lari setelah garis finis.

Perawatan yang umum dilakukan di dekat garis finis adalah membantu pendinginan para atlet dengan terapi es. Para fisioterapis juga memijat otot-otot atlet yang ‘terkapar’ setelah tancap gas selama bertanding.

“Prinsipnya pakai penanganan RICE. Kita kasih es (icing) paling utama, untuk pendinginan,” ujar Agung. Jika memerlukan penanganan lebih lanjut, atlet dibawa ke RSUD Moewardi atau ortopedi.

RICE merupakan singkatan dari Rest, Ice, Compression dan Elevation. Metode pengobatan ini biasanya dilakukan untuk cedera akut, khususnya cedera jaringan lunak (sprain maupun strain).

Fisioterapis direkrut dari Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta, Poltekes Kemenkes Surakarta, dan Unisa Yogyakarta. Sebanyak 10 orang fisioterapis terlibat dalam gelaran ASEAN Paragames XI ini.

Untuk bisa menjadi relawan di ASEAN Paragames Solo 2022, fisioterapis diwajibkan memiliki surat tanda registrasi. Agung sendiri merupakan lulusan Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta dan merupakan fisioterapis di National Paralympic Committee (NPC) Indonesia.

Di stadion atau arena pertandingan, fisioterapis  terlihat seperti hanya memijat dan memberi terapi es para atlet yang cedera atau butuh relaksasi otot. Tetapi sebenarnya, tugas mereka lebih dari itu.

Fisioterapis bekerja siang malam. Bahkan harus siaga 24 jam membantu penanganan atlet bila ada keluhan. Setelah bertanding, tim fisioterapis kembali ke hotel. Meski begitu mereka tetap memantau para atlet. Fisioterapis dapat dihubungi untuk yang memerlukan penanganan lanjut.

“Satu hari bisa sampai jam 12 malam, yang bertugas bisa 6 orang,” kata Agung yang masih studi magister Ilmu Keolahragaan di Universitas Negeri Sebelas Maret ini.

Tugas para fisioterapis di ASEAN Paragames Solo 2022 menurut Agung secara garis besar adalah  membuat program latihan setelah cedera, dengan mempertimbangankan jenis, riwayat dan faktor lain. Kemudian membuat penilaian terhadap suatu cedera yang dialami atlet.

“Kami juga melakukan edukasi dan melaporkan kepada pelatih mengenai kondisi atlet,” ujar Agung.

Tim fisioterapis juga sebagai pemberi saran, seperti apakah atlet yang cedera itu masih bisa lanjut bertanding atau tidak.

Dalam bertugas tidak ada resep khusus yang membedakan penanganan antara atlet disabilitas dan nondisabilitas. Yang penting menurutnya, pendekatan yang personal.

“Kalau sekadar asesmen, tidak membekas di hati,” katanya.

Agung juga mengaku banyak mendapat pelajaran dan pengalaman berharga selama terlibat di komunitas atletik di ASEAN Paragames Solo 2022 ini. Setiap hari ia menyaksikan para atlet penyandang disabilitas bertarung merebut juara sekuat tenaga dengan keterbatasannya. Hal itu membuatnya kagum sekaligus termotivasi.

“Para atlet disabilitas mengajarkan kita. Para atlet memiliki keterbatasan tetapi mereka berbuat maksimal,” katanya.

Ia pun salut dengan kekompakan kontingen Para-atletik Indonesia. Mereka sangat suportif terhadap temannya yang sedang mengalami cedera.

“Di atletik kekeluargaannya kental. Kalau ada yang cedera, teman-teman atlet yang lain datang dan memberikan dukungan. Itu sangat mempengaruhi pemulihan,” papar Agung.

Pria kelahiran 1997 di Banyumas ini juga mengaku memiliki pengalaman unik selama terlibat dalam ASEAN Pagagames Solo 2022. Agung yang bertugas di atletik, mengaku sering kali terbawa perasaan karena selalu hadir dalam suasana nasionalisme setiap hari.

“Saya sering terharu, karena di atletik kan setiap hari sering dengar lagu Indonesia Raya. Perasaan saya tuh kaya bagaimana gitu,” ujarnya.

Di ASEAN Paragames Solo 2022, Cabor para-atletik memang sering kali membuat Merah-Putih berkibar paling tinggi diringi lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Cabor ini menyabet gelar juara umum dengan koleksi 64 medali emas, 44 perak dan 24 perunggu.

Di pesta olahraga terbesar atlet penyandang disabilitas kesebelas se-Asia Tenggara ini, Indonesia dinilai sukses sebagai tuan rumah sekaligus meraih gelar juara umum dengan koleksi 171 medali emas, 138 perak dan 110 perunggu.

Di bawah Indonesia terdapat rival terberat Thailand yang mengumpulkan 113 emas, 113 perak dan 86 perunggu. Untuk posisi ketiga ditempati oleh Vietnam yang mengumpulkan 63 emas, 58 perak dan 54 perunggu, sedangkan tetangga terdekat Malaysia berada di posisi empat dengan koleksi 34 emas, 19 perak dan 14 perunggu. Sementara posisi kelima diduduki Filipina dengan torehan 28 emas, 31 perak dan 43 perunggu.

Narahubung:

Suhud   I +62856-3555-117

Isnan     I +62815-6756-969

Leave a Reply

Your email address will not be published.