Skip to content

Kamboja Jadi Kekuatan Baru Yang Harus Diwaspadai Di Wheelchair Racing ASEAN Paragames

  • by
Atlet balap kursi roda kelas 400 meter putra berlaga dalam ASEAN Paragames 2022 di Stadion Manahan, Solo, AND11

SOLO – Persaingan di nomor wheelchair racing pada para-atletik ASEAN Paragames 2022 bukan lagi dikuasai oleh Indonesia dan Thailand saja, tapi kini Kamboja menjelma jadi kekuatan baru di nomor ini. Hal itu bisa dilihat di kelas 100 meter dan 200 meter T54 (kursi roda) putra.

Meningkatnya performa Kamboja itu disadari oleh Indonesia, dan menurut asisten pelatih wheelchair racing Indonesia Dwi Cahya Nugraha cukup mengejutkan. Di kelas 100 meter misalnya, menurut dia, Kamboja sudah bisa melewati pencapaian Jaenal Aripin. Padahal perkiraan awal, melihat waktu, persaingan ketat hanya ada antara Jaenal dan Athiwat Paeng N. yang merupakan peraih emas Paralimpik Tokyo 2020.

“Ternyata kemarin Kamboja buat kejutan. Atletnya bisa bagus, dan Jaenal justru dapat perunggu. Kalau melihat dari nomor-nomor kursi roda, perkembangan negara lain bagus, tetapi Kamboja yang paling pesat saya lihat. Karena perhitungan awal di nomor dan kelas klafisikasi ini, kami hanya memperhitungkan Thailand, namun Kamboja yang justru naik,” katanya.

Jaenal pun mengakui hal tersebut. Sebagai yang merasakan di lapangan, dia menilai dari tahun ke tahun performa pesaingnya tersebut secara umum membaik.

“Dan atletnya pun (Kamboja -Red.) juga semakin banyak. Kemarin saya lihat formasinya ada 4-5 orang, jauh lebih banyak dari pada sebelum-sebelumnya. Ini rasanya jadi pekerjaan rumah bagi kita (Indonesia -Red.), karena Kamboja kedepannya sudah tidak boleh dipandang sebelah mata lagi. Harus mulai diwaspadai,” tegasnya.

Dibandingkan dengan Kamboja, menurut Jaenal, tim wheelchair Indonesia perlu mulai regenerasi. Sebab untuk mencari atlet baru di olahraga disabilitas ini, terutama di kelas yang digelutinya dinilai agak sulit.

“Karena tidak secepat cabang atletik di olahraga umum. Itu jadi pekerjaan rumah kita mencari bibit-bibit selanjutnya untuk dilatih dan dibina. Karena tidak mungkin saya terus-terusan yang di sini, harus ada penerusnya nanti,” tukasnya.

Mengomentari perkembangan tim, ofisial tim Kamboja, Ya Thol Radeth mengatakan bahwa dalam dua tahun ini Kamboja memang fokus untuk membina atletnya, khususnya di wheelchair racing lebih serius. Mereka fokus terhadap mental atletnya.

“Di mana kami menanamkan bahwa mereka pertama harus mau berlatih keras. Karena untuk bisa menguasai kelas ini tidak mudah. Kedua, mereka juga harus saling memahami sesama anggota timnya satu sama lain. Saling mendukung dan kalau ada kesalahan harus diperbaiki bersama, tidak saling menyalahkan,” katanya.

Ketika secara mental sudah terbentuk, Deth menilai, atletnya kini sudah mulai menunjukkan kepercayaan diri. Bahwa mereka mulai yakin kalau mereka bisa.

“Kemarin dengan hasil satu emas di nomor 100 meter, mereka telah menunjukkan effort 100 persen untuk tampil di ASEAN Paragames ini. Itu hasil semaksimal kami. Tapi ini jadi gambaran untuk kedepannya lagi, terlebih ASEAN Paragames berikutnya di Kamboja. Sebagai tuan rumah tentu kami harus benar-benar memanfaatkan momen tersebut untuk lebih meningkatkan kualitas atlet lagi, secara umum dan di nomor wheelchair ini secara khusus,” ujarnya menjelaskan.(TM-WS) ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.