Skip to content

Kholidin, Pedagang Bubur yang Membanggakan Indonesia

  • by
Kholidin jadi pusat perhatian menarik dan melepaskan busur dari mulutnya. INASPOC/Lutfi Ali.

SOLO – ASEAN Paragames (APG) 2022 di Kota Solo digelar memperebutkan medali emas, perak dan perunggu. Di antara ribuan atlet yang berjuang di 14 cabor yang dipertandingkan, ternyata ada beberapa atlet yang meraih lebih dari satu medali.

Salah satunya adalah atlet panahan Kholidin. Dia yang terjun di kelas recurve, meraih emas dari kelas ganda putra, lalu perak dari kelas ganda campuran, dan kelas individu putra dia meraih medali perunggu. Itu artinya semua jenis medali berhasil dikalungkannya.

“Alhamdulillah sangat senang, dan sangat bangga. Saya pribadi bisa menyumbangkan tiga medali untuk Indonesia. Bisa mengibarkan bendera Indonesia paling tinggi di samping Thailand dan Malaysia (di kelas ganda putra berpasangan dengan Setiawan), saya terharu sekali. Apalagi ketika Indonesia Raya dinyanyikan dan saya hormat ke bendera merah putih. Bangga pastinya,” terang Kholidin.

Yang membuat Kholidin jadi pusat perhatian tentu saja lantaran menarik dan melepaskan busur dari mulutnya. Hal ini lantaran dia tak punya tangan bagian kanan saat ini.

Dia mengakui pertama kali belajar panahan pada 2016 silam. Setahun sebelumnya sang adik sudah lebih duluan belajar panah. Dia diajak untuk ikut mendalaminya. Kala itu kedua tangannya masih komplet. Bahkan dia juga sempat mengikuti berbagai kejuaraan open di berbagai kota.

Namun nasib seseorang tak ada yang pernah bisa menebaknya. Pada 2017 kejadian besar terjadi pada dirinya, dan mengubah jalan hidupnya. Saat itu dia tengah naik pohon kelapa, dan jatuh dari ketinggian 9 meter. Ada cedera di bagian tangannya, yang membuat akhirnya tangannya harus diamputasi.

“Tiga bulan saya hanya belajar bangun, dan berjalan. Akhirnya saya mulai ambil busur dan anak panah. Namun bingung mau nariknya pakai apa, karena tangan saya kini tinggal satu. Namun ternyata setelah berdoa, Allah kasih jalan. Akhirnya saya putuskan narik pakai mulut, dengan sebelumnya ada tambahan senar untuk menariknya. Setelah bisa nembak dan masuk bidikan, saya senang sekali,” tuturnya.

Dia mengakui walau harus diamputasi, cintanya kepada panahan sama sekali tidak luntur. Namun walau sudah tahu teknik memanah dengan mulut, ternyata proses adaptasinya tak mudah.

“Awalnya saya pakai gigi depan, saya senang karena akhirnya bisa. Tapi setelah itu tiga hari saya gak bisa makan. Saya pakai gigi samping, namun ternyata malah sampai berdarah-darah. Akhirnya saya pakai gigi geraham, dan Alhamdulillah aman dan hingga sampai saat ini saya pakai gigi tersebut. Tapi karena kunci kekuatan saya di mulut, akhirnya saya selalu jaga kesehatan mulut dan gigi juga pastinya,” dia berbagi cerita inspiratif.

Ada hal humanis dalam diri Kholidin lainnya ternyata. Dia ternyata sebelumnya adalah pedagang bubur di depan Gedung Sarinah Jakarta. Bahkan itu sudah dia lakoni sejak 1994, saat dia belum jadi atlet.

“Bubur sarinah masih ada, tapi sekarang dijaga oleh anak saya dan adik ipar saya. Tahun 1995 sampai 2005 jualannya di trotoar pakai gerobak di depan Sarinah. Waktu itu ada pembenahan trotoar di DKI buat bagusnya, akhirnya saya yang jualan kaki lima gak bisa jualan disitu lagi. Tiga bulan saya berdoa semoga dikasih jalan. Alhamdulillahnya saya diberi kesempatan buat jualan di parkiran di Gedung Wisma Geha, Jakarta Pusat yang masih di samping Sarinah. Bersyukur masih jualan di sana sampai hari ini,”ungkap Kholidin.

Ya, Bubur Bang Udin yang ada di Gedung Wisma Geha tentu saat ini ikut jadi vital pastinya. Dimana pemiliknya, ternyata baru saja membawa harum nama Indonesia. Walau dalam kondisi keterbatasan fisik, ternyata Kholidin masih bisa berprestasi di kejuaraan internasional.

“Banyak yang memberi selamat. Pelanggan antusias, senang, dan bangga karena saya bisa mengharumkan nama Indonesia. Saya ikut senang pastinya. Ada juga langganan lama yang tak tahu kalau saya insiden dan kehilangan tangan, ternyata masih ingat wajah saya saat meraih medali pas fotonya muncul di medsos,” ujarnya.

Dia memberi pesan kepada beberapa pihak, yang mungkin kondisinya tak jauh beda dengannya yang kini tak memiliki kondisi tubuh yang normal. Dia berpesan agar cita-cita bisa terus diperjuangkan untuk bisa tercapai, apapun itu rintangan yang akan dihadapi.

“Buat teman-teman yang disabilitas atau yang normal, tetap semangat. Tetap berjuang dan berdoa. Cita-cita apapun akan tercapai kalau kita berjuang dengan sungguh-sungguh untuk bisa menggapainya,”pungkasnya.*

Leave a Reply

Your email address will not be published.