Skip to content

Percaya Proses, Figo Saputra Ingin Terus Memperbaiki Diri

  • by
Figo Saputra meraih medali emas pertamanya pada ajang ASEAN Paragames 2022

SOLO – Impian Figo Saputra, 21 tahun, untuk menjadi atlet semenjak TK akhirnya terwujud. Rabu (3/8/2022) pagi tadi, di Stadion Manahan, Solo, dirinya resmi mendapatkan emas pertamanya dari ajang ASEAN Paragames 2022.

Turun di nomor 200 meter T46 (gangguan kekuatan otot/rentang pasif), ASEAN Paragames ini menjadi pengalaman pertama yang istimewa bagi atlet asal Jawa Tengah ini. Pasalnya dirinya mengaku bangga mampu mengalahkan para senior-seniornya yang telah terlebih dulu terjun di nomor ini. Seperti dua atlet asal Vietnam, Phung Dinh dan Mai Anh.

Dia mendapatkan emas setelah mencatatkan waktu tercepat 23,080 detik. Menyisihkan dua rekan senegaranya Firza Faturahman dengan 23,870 detik dan Erens Faturahman Listianto yang menghasilkan waktu 24,290 detik.

“Emas ini memang target saya pribadi. Karena dari dulu lihat senior-senior saya jadi buat saya termotivasi, termasuk dua atlet dari Vietnam tadi. Saya sudah lihat video mereka, sangat baik tekniknya. Jadi itu juga yang membuat saya termotivasi lebih untuk bisa bersama mereka satu lintasan dan puji tuhan ternyata bisa memberikan yang terbaik,” ungkapnya

Walaupun sudah mampu mempersembahkan emas, namun Figo mengaku belum puas. Karena menurutnya di luar sana, masih banyak atlet-atlet terutama di kelasnya T46/47 yang dinilainya masih jauh lebih baik.

“Saya masih perlu perbaikan lagi, agar bisa menyusul mereka lagi. Karena saya percaya proses. Semoga saya bisa lanjut ke level yang lebih tinggi, berkompetisi bersama atlet-atlet yang lebih hebat lagi tentunya. Bisa menjadi motivasi saya untuk terus tampil lebih baik lagi,” tambahnya.

Guna menyempurnakan tekniknya, Figo bahkan berkuliah di jurusan pendidikan kepelatihan olahraga di Universitas Sebelas Maret. Dirinya mengaku masih harus memperbaiki teknik lari dan lompat, serta membentuk fisik lebih baik lagi.

“Saya membandingkan dengan negara lain yang tekniknya lebih bagus. Mereka (negara-negara ASEAN) punya banyak atlet yang sudah tembus paralimpik, etos latihan mereka yang saya tiru dari mereka, disiplin. Indonesia sendiri tekninya pun sudah membaik. Mulai bisa menyesuaikan kualitas kualitas tekniknya dengan negara-negara pesaing lainnya terutama di ASEAN,” katanya.

Impian untuk menjadi atlet sudah tertanam dipikirannya sejak TK. Dari situ dia mulai senang menggeluti olahraga, mulai dari futsal hingga renang. Hingga akhirnya pada 2014 lalu, dirinya bertemu dengan salah satu atlet disabilitas yang kebetulan adalah atlet tenis kursi roda.

“Namanya Alm. Pak Nino. Ketemunya di toko kayu saat saya sedang mencari bahan untuk tugas prakarya. Saya ditanya apakah suka olahraga, saya bilang suka. Lalu saya disuruh memilih antara badminton, renang, atau lari. Saya pun menjawab lari, dan akhirnya pada Desember 2014 saya diajak bergabung ke NPC Cilacap. Dari situ jalan saya di atletik,” ucapnya. (TM-WS) ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.