Skip to content

Rebut Emas Perdana, Marcelino Ingin Menginspirasi Banyak Orang

  • by
Marcelino Michael meraih medali emas nomor tolak peluru F13 (gangguan pengelihatan) ASEAN Paragames 2022.

SOLO – Marcelino Michael ingin menginspirasi rekan-rekannya yang memiliki kekurangan secara fisik. Atlet berusia 22 tahun dari Jakarta ini, Selasa (2/8/2022) meraih medali emas pertamanya di nomor tolak peluru F13 (gangguan pengelihatan) ASEAN Paragames 2022.

Marcelino Michael mampu melempar sejauh 12,29 meter. Dia menyisihkan rival terdekatnya Wasun asal Thailand yang menempati posisi kedua. Lemparan terbaik Wasun dari lima percobaan adalah 10,08 meter.

Sementara perunggu dinomor ini diambil oleh atlet Brunei Darussalam, Awang Raduan bin Awang Haji dengan hasil lemparan sejuah 7,37 meter.

Atlet yang akrab di sapa Maikel memiliki kekurangan pada pengelihatannya. Dirinya sejak kecil low vision. Dia hanya bisa melihat cahaya saja matanya. Marcelino mengaku sangat bersyukur mendapat kalungan medali emas pertamanya.

“Saya hanya berpesan untuk semua yang memiliki kekurangan, jangan pernah malu dengan kekurangan kita. Sebab, di balik kekurangan kita pasti masih ada kelebihan yang kita punya,” ungkapnya.

Buat suport keluarga, terutama orang tua dan pelatihnya yang menjadi penyemangatnya untuk terus bisa berprestasi. Setelah medali emas nomor ini, dan mencatatkan lemparan tertinggi di cakram pada kelas yang sama, dirinya masih ingin mengincar satu nomor lagi di lempar lembing.

Lebih lanjut dikatakan dia bertekad menyumbangkan medali emas lagi. Apalagi emas pertamanya di nomor tolak peluru ini sebenarnya kejutan. Awalnya dia hanya ditargetkan perak. Tetapi dengan tekad kuat, Marcelino mengkonversi dengan emas.

“Kuncinya yakni berlatih terus dengan keras. Saya digembleng pelatih saat pelatnas biar bisa menghasilkan medali ini untuk Indonesia. Saya ulang-ulang terus arahan pelatih, kemana arah lemparan pelurunya, bagaimana gerakannya. Pelatih juga mendampingi dan memberitahukan ke sudut mana yang bagus untuk saya melakukan lemparan,” ucapnya.

Pendampingnya, Supriyadi Arifin mengatakan bahwa teknis dan peta kekuatan lawan memang penting dijelaskan detail kepada Marcelino. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana bisa memotivasi sang atlet. Karena motivasi tersebut yang dinilainya menjadi kekuatan untuk sang atlet percaya bahwa mereka bisa mencapai hasil maksimal saat berlomba.

Bakat olahraga Marcelino ada sejak dirinya muda. Dia memang diarahkan untuk menjadi atlet. Dari mencoba olahraga lain, pada usia 14 tahun dia akhirnya memutuskan untuk menggeluti atletik.

Dia mencoba berbagai nomor, dimulai dari lari. Tapi, ketika itu di lari hasilnya kurang memuaskan. Apalagi dirinya saat itu belum memiliki pendamping karena masih di daerah.

Marcelino pun hanya bertahan satu tahun di nomor lari, hingga akhirnya pindah ke nomor lempar sejak 2014 akhir. Marcelino pun mengaku dirinya merasa nyaman dengan olahraga dan nomor yang digelutinya ini.

Dari sini, banyak prestasi telah dicatatkannya. Mulai dari medali untuk provinsi, kemudian naik ke level nasional saat Peparnas Papua kemarin dengan hasil dua medali emas dan dua perak. Hingga akhirnya setelah Asian Para Games (APG) 2018 berlangsung, dia dipanggil masuk ke National Paralympic Committee (NPC) untuk masuk pelatnas.

Setelah bisa mencatatkan prestasi hingga level ASEAN, dirinya ternyata berambisi untuk bisa melanjutkan prestasinya ke jenjang lebih tinggi lagi yakni Asian Games dan tentu saja ujungnya adalah Paralimpik.

“Yang ingin saya capai, jelas ingin tembus hingga paralimpik prestasinya. Kalau bisa mengejar yang terdekat, yakni Paralimpik Paris 2024,” katanya.**

Leave a Reply

Your email address will not be published.