Skip to content

Sempat Pindah Cabor, Suwarti Mendulang Sukses di Paratenis Meja

Suwarti meraih medali emas perdana pada nomor beregu putri kelas TT 8 ASEAN Paragames 2022. INASPOC/Wibowo Rahardjo.

Solo – Suwarti membukukan medali emas perdana pada nomor beregu putri kelas TT 8 ASEAN Paragames 2022 seusai mengalahkan Thailand dengan skor 2-0. Kesuksesan ini tak lepas dari keputusannya pindah cabang olahraga 16 tahun yang lalu.

Perempuan asal Desa Catur, Sambi, Boyolali, bukan kali pertama berlaga di kompetisi multi event internasional. Pada ASEAN Paragames 2017, dia menyabet emas saat berpasangan dengan Hamida pada nomor beregu putri TT 6-8.

Pada ajang yang sama, dia meraih medali perak untuk nomor tunggal putri pada kelas TT 6-8 sesuai dikalahkan pemain Filipina Josephine Medina.

Setahun kemudian, Suwarti kembali menyumbangkan emas untuk tanah air pada nomor ganda campuran TT 6-8 dalam ajang Asian Paragames. Suwarti berpasangan dengan Mohammad Rian Prahasta harus mengalahkan rekan senegaranya Hamida/Banyu Tri Mulyo.

Suwarti menceritakan deretan prestasi yang diraihnya hingga kini tak lepas dari keputusannya untuk pindah cabang olahraga pada 2006.

Awalnya, dia menggeluti cabang olahraga parabulu tangkis pada 2004. Dia lantas mengikuti Asean Paragames pada 2005 menghadapi Filipina. Dia kalah.

Dari pengalaman itu Suwarti merasa bermain di parabulu tangkis banyak menguras tenaga. Lapangannya yang besar memaksa dia banyak berlari.

“Saya enggak kuat. Kaki saya lemas. Saya akhirnya pindah cabor ke [para]tenis meja pada 2006,”ujar dia, saat ditemui wartawan, Senin (1/8/2022).

Sejak itulah dia mulai getol berlatih keras. Dia pula mulai mengikuti kompetisi multi event berskala internasional baik di tingkat ASEAN maupun Asia.

Kegigihan Suwarti mengasah kemampuannya di dua paratenis meja didukung penuh oleh pemerintah Indonesia melalui NPC. Dia mendapatkan porsi latihan yang terukur dan jelas. Semua program latihan digelar maksimal.

“Dari fisik, teknik, mental semua sudah tercukupi. Kami siap untuk tanding. Kami di sini mainnya tidak hanya satu nomor, jadi fisik harus terjaga,” tutur perempuan berusia 35 tahun ini.

Dukungan serupa juga datang keluarganya. Suwarti memang sejak SMP menjadi atlet. Hingga kini, dukungan keluarga terus mengalir termasuk pada saat berlaga di lapangan.

Bagi Suwarti, dari setiap kemenangan yang diraihnya, itu tak lepas dari anugrah Tuhan. Saat bertanding dia memasrahkan semuanya kepada Yang Kuasa, di luar latihannya yang maksimal.

“Saya pasrah sama Tuhan.‘Nothing to lose.’Pertandingan niatnya bismillah membela negara. Saya tidak membebankan harus juara, dapat uang, dan lainnya,” pungkas dia.(*)