Skip to content

Sepak Bola CP: Memburu Gelar Juara, Indonesia Bakal Redam Upaya Balas Dendam Thailand

  • by
Pemain Timnas Celebral Palsy (CP) Football Indonesia melakukan latihan pada 11th ASEAN Paragames 2022 di Stadion UNS Surakarta, Jawa Tengah. INASPOC/FERI SETIAWAN

SOLO – Perburuan gelar juara sepak bola cerebral palsy (CP) antara tuan rumah Indonesia versus Thailand pada final ASEAN Para Games (APG) 2022 di Stadion UNS Solo kampus Kentingan, Jumat (5/8/2022) sore, dipastikan berlangsung sengit.

Thailand tentu tak ingin kembali kalah, seperti yang dialaminya pada laga perdana versus tim tuan rumah, Minggu (31/7/2022) lalu. Pada partai yang seperti final kepagian itu, tim Negeri Gajah Putih kalah 2-3.

Lebih-lebih sejak single event turnamen sepak bola CP yang digelar di Singapura 2016, Thailand tak lagi mampu mengungguli Indonesia.

Karena itu tim Merah Putih harus meredam dan mengantisipasi kebangkitan Thailand pada partai pamungkas tersebut. Pelatih Anshar Ahmad pun telah menangkap kemungkinan balas dendam rival bebuyutannya itu.

‘’Sudah pasti, mereka ingin balas dendam, karena tak lagi jadi juara sejak APG Malaysia 2017. Padahal pada APG Singapura 2015 dan APG-APG sebelumnya, Thailand selalu juara sepak bola CP,’’ tutur Anshar didampingi asisten pelatih, Afif Bayu dan Irpan.

Sementara pelatih Bannawat Posrioun juga memandang Indonesia sebagai tim yang memiliki pemain dan pola permainan yang bagus. Maka berbagai persiapan dilakukan, termasuk improvisasi saat bertanding guna menjinakkan tim Indonesia.

‘’Kami sudah siap 100 persen untuk menghadapi Indonesia. Kami tentu juga sudah menyiapkan strategi baru untuk menang. Kami yakin, bisa mengalahkan Indonesia pada laga final nanti,’’ ujarnya.

Apakah Thailand akan bermain lebih agresif saat menantang kembali Indonesia, nanti??

Bannawat tidak mau mengungkapkan pola yang akan diterapkannya. Yang jelas, para awak timnya telah telah familier dengan kondisi lapangan di Stadion UNS yang dinilainya sangat bagus. Sebab, keluhanan yang sempat diungkapkan seusai kalah 2-3 dari Indonesia para pertandingan pembuka Minggu lalu adalah karena para pemainnya belum pernah mendapat kesempatan uji lapangan.

‘’Tunggu saja penampilan tim kami, besuk. Saya kira, Indonesia tentu juga sudah mempelajari permainan kami,’’ tutur dia.

Anshar menyebut, bisa saja Thailand bermain agresif. Namun dia memperkirakan, jika lawan menerapkan permainan agresif maka kemungkinan tidak diterapkan sejak awal.

‘’Mereka tentu tetap punya rasa trauma, karena pada laga perdana sempat tertinggal 3-0 sebelum memperkecil kekalahan menjadi 3-2. Mereka pasti juga akan bermain hati-hati. Yang jelas, sebagai tuan rumah tentu kami tak ingin kalah. Tim kami sudah sepakat, mempertahankan gelar juara APG seperti 2017,’’ tandas Anshar.(TM-SW) ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.